Kondom Oh Kondom

Suatu hari di saat mata ku lagi ngantuk-ngantuknya, sampai mau ke alam mimpi, hingga akhirnya terbangun gara-gara ada tugas yang menurutku rada aneh. Yah beli kondom, “Kalian harus beli kondom beserta pasangan kalian, boleh cewe-cewe, cewe-cowo, atau cowo-cowo”. Haa? unik bener nih tugas, seumur-umur belom ada tugas yang extreme kaya gini. Pas saat itupun ku mulai me list beberapa teman cewe ku, yah moga-moga berhasil rencana ku ini. Sampai pulang kuliah pun ku masih terbebani akan tugas ini, siapa yang mau ku ajak beli safety guard bentuk jelly ini yah? mungkin ada lah, mencoba berpositive thingking dan sedikit menghibur diri. Hingga pulang kuliah pun masih terngiang kata-kata penugasan tadi.

Sehari, tidak ada pikiran untuk mengajak salah satu teman cewe maupun kenalan perempuan. Hari kedua, hari ketiga dan bahkan sampai hari kelima ku belum ada pikiran menemukan teman yang mau ku ajak beli sesuatu yang berlendir dan licin ini.

beberapa hari kemudian ku mulai mencari-cari teman yang mau ku ajak membeli sesuatu yang bernama kondom ini. pertamanya sih ku masih ragu, tapi yah sudahlah, kerjaan kalo ngga segera di kerjakan akan semakin menumpuk dan akan membebaniku juga nantinya..

SMS pertama ku kirim ke salah satu teman akrabku di Semarang, seperti Si Punuk yang merindukan Bulan, layaknya seperti itu ku menunggu balasan SMS yang ku layangkan melalui telepon genggam warna putihku ini. Satu menit, Dua menit, lima menit tidak ada balasan. Yah mungkin dia sedang ada urusan mungkin, sembari menepuk pundak dan mencoba unuk berpositif thingking lagi.

Dua menit kemudian di saat sedang asyiknya ku memandangi laptop dan lagi asyik chat dengan salah seseorang yang sedang online juga, HP warna putih ini berdering dengan nada normal dan gemerlap warnanya.

“Maaf”. itu balasan yang tertulis di layar hapeku saat ini.  Yah apa boleh buat kehendak orang yang sedang tidak mood atau tidak mau jangan di paksakan. Disaat itu juga ku mulai goyah semangatku untuk mencari pasangan yang cocok untuk menemaniku membeli jelly transparan ini.

Dengan sadar diri, ku mulai mengetikkan kata per kata yang akhirnya membentuk rangkaian kalimat yang isinya mengajak “dia” untuk menemani ku membeli barang yang ditugaskan oleh Dosen KWU ku ini.

Saking nekatnya langsung ku kirim aja tanpa ada rasa gemetar atau apai itu sejenisnya.

Jawaban pun langsung menghampiri ku secepat ku mengirimkan SMS kedua. Yah lagi-lagi “dia” tidak mau, katanya sih sudah ada pasangan lain yang meminta bantuannya. hmm…

Dengan sedikit putus asa, akhirnya ku putuskan untuk tidak mengajak siapa-siapa lagi. Biarlah nantinya ku pergi beli kondom dengan slaah satu teman cowo di kelasku, mungki pastinya dia akan mau menemaniku.

Ini hari yang berbeda dari biasanya, hari dimana ku akan melewati batas wilayah daerah, antara Jawa tengah dan Jawa Timur, yah ku akan memulai perjalanan jauh menempuh sekitar delapan jam perjalanan hingga turun di Terminal Purabaya Surabaya. Namun di tengah-tengah perjalan di atas kursi duduk di dalam bus, ku seakan teriris lagi luka yang pernah ku rasa, yah luka dimana kamera kesayanganku hilang beserta dua lensanya, satu lensa normal dan satunya lagi lensa tele. Ku pikir ini adalah cobaan yang harus ku lalui, meskipun nantinya akan berbuah masam, minimal teringat sejarah antara Aku dan Bis Jaya Utama warna biru ini. Yah memang sepertinya ini bus memang menjadi tempat sialku, mengapa? karena di hari yang sama, namun di jam yang berbeda, ku kehilangan lagi dan lagi barang berhargaku di sini, di atas bis yang sama pula. Karena HP masih ada pulsanya dan tiket masih ada di saku, ku mulai menelepon Contact person yang tertera di karcis bis yang kutumpangi tadi. Katanya sih bisnya masih di bagasi di terminal, tapi nyatanya setelah bolak-balik hingga empat kali mengelilingi bagasi satu per satu maskapai bis di terminal ini, hasilnya NIHIL. Bis yang kumaksud tidak ada di bagasi ini, dengan sedikit jengkel ku telepon CP yang tadi, dan ternyata menurut informasi yang dia peroleh, ternyata bis yang tadi ku tumpangi sudah dalam perjalanan menuju Semarang lagi. Dengan harapan yang masih setengah, ku coba untuk menelepon kondektur bis Jaya Utama tadi, alhamdulillah ternyata barangku amsih ada dan besoknya mungkin bisa ku ambil lagi di terminal yang sama di Surabaya.

Di pagi harinya, ku beraktifitas lagi seperti biasanya. Dan lagi-lagi, ketika salah satu kawan ku disini mengetahui keberadaanku di Surabaya, akhirnya diajak untuk hunting bersama di kawasan Kebun Binatang Surabaya dan di Kawasan Kota Tua, tepatnya di Jalan Gula. Setelah seharian bermain dengan foto dan kamera, kami berenam mengakhiri perjalanan dengan mengunjungi rumah makan yang biasanya kami tongkrongi. Yah disana kami mengobrol tentang banyak hal, tidak luput juga pengalaman mau membeli kodom ini masuk di tengah persilatan lidah forum kecil kami. Ada yang menyindir ada pula yang tertawa terbahak-bahak dikarenakan belom ada yang mau ku ajak membeli kondom di Semarang. Namun seakan hujan trurun menghujani ladang kering yang bertahun-tahun kering, ada salah satu sahabatku yang mau merelakan dirinya untuk menjadi partnerku membeli kondom. Dan setelah penutupan acara makan ini, langsung ku melesatkan motor ke arah SPBU terdekat sebelum menuju ke apotek yang masih buka di Kota Surabaya.

Berjalan ke arah sini udah tutup apoteknya, berjalan ke arah lain, malah sudah pindah apoteknya. Memutar otak dan mencoba mengingat-ingat lagi dimana ada apotek yang masih buka di sekitar kawasan ini. Yah kita menemukan apotek K24 di kawasan dekat Taman pelangi Surabaya. Agak deg-dehan juga ketika mau mau parkir sepedah motor ku ini. Waktu ku tanya temenku ini, eh dia malah jawab biasa-biasa aja, sial masa kalah sama cewe. Dengan memantapkan hati dan sedikit malu juga, akan ku beli sesuatu yang bernama KONDOM itu juga, begini percakapan kami di apotek yang tidak akan tutup kecuali hari libur nasional itu.

Aku : “Mbk ada kondom ngga? ”

Penjaga : “ada”

Temen : “Ada apa aja mbk, kondomnya?”

(eh nih anak ko malah dia yang tanya, sambil mengerutkan dahi, yah tapi tak apalah biar cepet selesai acara beli membeli kondom ini)

Penjaga : “untuk cewe apa cowo”

Aku : “cowo aja mbk”

Penjaga : “Yang ready Stock tinggal fiesta ama durex mas, gmna? ”

Aku : ” Gimana de? ” (sambil liat temenku )

Temen : ” Terserah sih mas, enaknya yang apa?”

Aku : ” Ko malah balik tanya sih? ”

“hmmm, bedanya fiesta dan durex apa mbk?” (sambil liat mbk penjaga)

Penjaga : ” paling harganya aja mas”

Aku : “emang berapaan mbk? ”

Penjaga : ” Fiesta rata-rata ngga sampe Rp 5.000,00 mas, kalo durex mahal”

Aku : “mahal berapaan mbk?”

Penjaga : ” sekitar  Rp 9.000,00 – Rp 18.000,00 an mas”

Temenku : “gimana mas?”

Aku : ” iya bentar, ngga sabar amat sih ”

” itu ko bedanya jauh amat mbk, ada ngga yang lebih murah selain itu?”

Penjaga : ” ada yang andalan sekitar Rp 2.000,00 an, tapi dua hari kemarin udah habis, dan belom dateng”

(Sambil muka cuek)

temenku : ” Itu ko warnanya beda-beda mbk?”

Penjaga : ” fiesta ada yang rasa banana, mint, strawberry, coklat juga ada mbk”

Temenku : “ohhh”

Aku : “Yaudah deh mbk, beli satu yang fiesta”

Penjaga : ” rasa apa mas? ”

Temenku : “rasa coklat aja mas ”

(gila nih oran, kayaknya ngga salah nyari temen, haha)

Aku : “yaudah deh beli fiesta coklat”

akhirnya perjalanan membeli kondom berakhir sudah, setelah sekian lama ditolak mulu oleh beberapa orang teman di semarang, akhirnya dapat juga di Surabaya.

Dan menurut kesimpulan yang ku dapat tadi, bahwa, seolah-olah transaksi beli kondom ini agaknya seperti hal yang lumrah di kalangan apoteker Surabaya, jika dilihat dari raut wajah si mbk apoteker tadi. Sehingga bisa di tarik kesimpulan bahwa disini tidak ada batasan umur pembeli kondom, dilihat dari ekspresi mbk penjaga tadi tanpa menanyai umur-umur kami terlebih dahulu.

Sesampai dirumah, dikarenakan tugas yang mewajibkan kami para mahasiswanya untuk membuka dan mengamati isi bungkusan kemasan kondom tersebut, maka ku buka secara perahan dengan membaca terlebih dahulu keterangan yang ada di label luar. Yang intinya kondom itu secara fisik sudah dalam keadaan Ready untuk digunakan, mempunyai lendir yang entah apa itu namanya (mungkin sejenis pelumas dan sejenisnya), dan memiliki warna bening ke kuning-kuningan, serta memiliki bau yang khas. Sekian dan terima kasih atas perhatiannya yang telah membaca pengalaman membeli kondom ini Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s